Balai Litbang Agama Semarang Perkuat Tertib Administrasi
Setiap selesai kegiatan, selesai pula pelaporannya. Karena itu, perlu dilakukan penyisiran kembali untuk memastikan tidak ada kegiatan yang belum dipertanggungjawabkan
Mewujudkan tata kelola publikasi ilmiah, layanan penelitian terpadu, dan literasi moderasi beragama yang inklusif.
"Penguatan moderasi beragama berbasis data riset ilmiah adalah fondasi utama menjaga kerukunan di wilayah BLA Semarang."
Kepala Balai Litbang Agama Semarang
Kabar terbaru dari kegiatan riset lapangan dan inovasi digital BLA Semarang
Setiap selesai kegiatan, selesai pula pelaporannya. Karena itu, perlu dilakukan penyisiran kembali untuk memastikan tidak ada kegiatan yang belum dipertanggungjawabkan
Bagi masyarakat Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura bukan sekadar tetangga atau sahabat. Jika kita melihat silsilah sanad keilmuannya, terdapat pertalian yang sangat kuat. Jadi, hubungan kita bukan hanya bertetangga secara kultural, tetapi juga memiliki kedekatan genetik dan intelektual
Moderasi beragama dapat dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga, sebelum diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemampuan mengendalikan diri dan menyikapi perbedaan secara bijaksana menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan.
Peluang kerja sama internasional dari hasil pertemuan dengan tokoh agama dunia di Assisi, Italia. Selain mendapat respons positif atas gagasan diplomasi keagamaan yang digulirkan Indonesia, kunjungan tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan sejumlah negara dan perguruan tinggi di Italia serta Vatikan.
Kemajuan Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh pembangunan fisik, kecanggihan teknologi, maupun kekayaan sumber daya, melainkan juga oleh kualitas manusia yang memiliki karakter kuat dan kepedulian sosial.
Model pluralisme dan harmoni kehidupan (living harmony) Indonesia sebagai studi kasus bagaimana keberagaman dapat dikelola untuk menjaga stabilitas dan kerukunan sehari-hari. Penguatan gagasan ini semakin menegaskan peran aktif Indonesia dalam mendorong moderasi beragama (Wasaṭiyyah Islam) dan harmoni lintas batas di tingkat global.
Nilai-nilai moderasi juga ditemukan dalam berbagai ajaran agama. Islam mengenal konsep wasathiyah atau jalan tengah. Kristen menekankan perdamaian dan penolakan terhadap kekerasan, Katolik mengajarkan cinta kasih, Hindu mengedepankan keseimbangan, Buddha mengenal Jalan Tengah dan cinta kasih, sedangkan Konghucu memiliki konsep Zhong yang menekankan keseimbangan.
Pendampingan tersebut menjangkau sekitar 200 mualaf yang tergabung dalam kelompok pembinaan di Kota Semarang, termasuk jamaah dari Kecamatan Semarang Tengah, Candisari, dan Gajahmungkur. Program ini telah dirintis sejak 2015 melalui kelompok pengajian Taklim Al-Harokah di wilayah Semarang Tengah.