BLA Semarang Ajak Mahasiswa UIN Walisongo Tak Mudah Berprasangka
Semarang - Penilaian terhadap orang lain yang lahir dari informasi terbatas dapat menjadi awal munculnya prasangka dalam kehidupan bersama. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan menguji asumsi dan melihat perbedaan secara lebih utuh agar tidak mudah menilai orang lain berdasarkan identitas, latar belakang, maupun pengalaman yang dimilikinya.
Pesan tersebut disampaikan Mazaya Fikrotil Aimmah, Analis Kebijakan Balai Litbang Agama (BLA) Semarang, dalam kegiatan Penguatan Moderasi Beragama bagi mahasiswa PPL Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, asumsi merupakan bagian dari cara seseorang membaca situasi. Namun, asumsi yang dibangun dari informasi terbatas berpotensi melahirkan penilaian yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Jika tidak dikaji secara kritis, asumsi berpotensi membuat seseorang memberikan penilaian berdasarkan prasangka atau pengalaman yang terbatas, bukan berdasarkan kondisi yang sebenarnya,” katanya.
Untuk memberikan pengalaman langsung kepada para mahasiswa, Mazaya menggunakan metode sederhana melalui permainan dengan dua kotak kardus bekas kemasan makanan ringan. Kedua kotak tersebut memiliki isi berbeda. Satu kotak berisi tasbih, sedangkan kotak lainnya berisi koyo.

Mahasiswa kemudian diminta menebak isi kedua kotak tanpa membukanya. Untuk mencari tahu, peserta boleh melihat, menggoyangkan, meraba, hingga mencium kotak tersebut. Namun, berbagai cara yang dilakukan belum cukup untuk mengetahui isi kotak. Jawabannya baru diketahui setelah kedua kotak dibuka.
“Permainan ini memberikan gambaran bagaimana seseorang kerap membangun kesimpulan berdasarkan informasi yang terbatas. Apa yang terlihat, terdengar, atau dirasakan belum tentu memberikan gambaran utuh mengenai keadaan sebenarnya,” ujarnya.
Melalui praktik tersebut, peserta diajak menyadari bahwa hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang berhadapan dengan orang lain yang memiliki latar belakang maupun cara pandang berbeda.
“Penilaian dapat muncul hanya berdasarkan penampilan, latar belakang, identitas, pengalaman, atau informasi yang belum tentu lengkap,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa kemampuan menguji asumsi dan membuka perspektif merupakan bagian penting dalam membangun sikap moderat. Perbedaan, menurutnya, tidak semestinya langsung dijadikan dasar untuk memberikan penilaian terhadap orang lain.
“Perbedaan tidak semestinya langsung menjadi dasar untuk memberikan penilaian, tetapi perlu dipahami melalui proses mengenal, mendengar, dan melihat persoalan secara lebih utuh,” jelasnya.
Kegiatan Penguatan Moderasi Beragama ini dilaksanakan pada 5–11 Oktober 2026 dan diikuti sekitar 58 mahasiswa PPL UIN Walisongo Semarang.