Di Balik Kerupuk, Ada Semangat Kemerdekaan
Semarang - Suasana mendadak riuh. Sorak-sorai dan gelak tawa pecah ketika para peserta duduk bersila di hadapan kerupuk yang digantung dengan tali pancing. Kerupuk bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti setiap gerakan peserta yang berusaha melahapnya tanpa bantuan tangan.
Lomba makan kerupuk digelar Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Balai Litbang Agama Semarang dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kamis (13/8/2026).
Sekilas, lomba ini tampak sederhana. Hanya kerupuk yang digantung dan peserta yang berusaha memakannya. Namun, ketika perlombaan dimulai, tantangannya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Peserta harus mengandalkan ketangkasan, kesabaran, dan strategi. Mereka harus mendekatkan mulut ke kerupuk yang terus bergerak. Sedikit saja tersentuh atau terkena hembusan angin, kerupuk akan bergoyang menjauh.
Sesekali peserta memiringkan kepala, membuka mulut lebar-lebar, lalu bergerak mengikuti arah kerupuk. Alih-alih langsung berhasil, gerakan itu justru kerap mengundang tawa penonton.
“Sedikit lagi!” teriak salah seorang penonton memberi semangat.
Sorakan semakin ramai ketika kerupuk mulai tinggal separuh. Peserta pun semakin bersemangat. Mata tertuju pada sasaran, kepala dan tubuh bergerak mengikuti arah kerupuk.
Di tengah riuh perlombaan, terselip pelajaran sederhana. Kerupuk yang terus bergoyang seolah mengajarkan bahwa sesuatu yang ingin diraih membutuhkan usaha, kesabaran, dan kegigihan. Tujuan tidak cukup hanya dipandang, tetapi harus diperjuangkan hingga berhasil.
Kerupuk memang makanan sederhana. Namun, dalam perayaan kemerdekaan, makanan yang akrab di meja makan itu menjelma menjadi bagian dari tradisi yang mampu menghadirkan kegembiraan sekaligus mempererat kebersamaan.
Di balik keseruannya, lomba makan kerupuk juga memiliki cerita sejarah. Berdasarkan buku Permainan Kerupukan (2022) karya Gilar Gandana dkk., lomba makan kerupuk mulai muncul pada dekade 1950-an. Kala itu, perlombaan tersebut menjadi salah satu bentuk hiburan bagi masyarakat setelah melewati masa perang.
Lomba makan kerupuk juga mengingatkan masyarakat pada kondisi sulit setelah kemerdekaan. Pada periode 1945–1950, masyarakat Indonesia masih menghadapi berbagai perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, termasuk menghadapi Agresi Militer Belanda.
Kerupuk dalam perlombaan bukan sekadar objek permainan. Ia dapat menjadi simbol kesederhanaan sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan.

Bagi Djatmiko, salah seorang peserta, lomba makan kerupuk bukan sesuatu yang asing. Ia mengaku sudah mengikuti lomba tersebut sejak kecil.
“Lomba ini menyenangkan. Meski susah, saya terus berusaha,” tuturnya.
Kecintaannya terhadap kerupuk pun sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
“Saya suka kerupuk sejak kecil. Ketika makan tidak ada kerupuk, rasanya seperti ada yang kurang,” katanya sambil tersenyum.
Menurutnya, kerupuk bahkan sudah seperti menu pelengkap yang selalu dinantikan ketika makan.
“Kerupuk sudah menjadi menu wajib ketika makan,” tambahnya.
Cerita serupa disampaikan Eko Bayu Sasongko. Ia mengaku selalu bersemangat mengikuti lomba makan kerupuk setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI.
“Lomba kerupuk bikin tertawa dan melatih kesabaran. Ketika kerupuk mau dimakan, selalu pindah-pindah,” ujarnya.
Meski menyukai kerupuk, Eko mengaku tetap bisa menikmati makanan tanpa kerupuk.
“Saya ketika makan tidak ada kerupuk tetap nikmat, tetapi tambah nikmat kalau ada kerupuknya,” katanya.
Pada akhirnya, lomba makan kerupuk bukan tentang siapa yang paling cepat menghabiskan kerupuk. Bukan pula semata-mata tentang siapa yang berdiri sebagai pemenang. Ada tawa yang dibagikan, semangat yang ditularkan, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah perayaan kemerdekaan.
Lomba sederhana itu pun kembali mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara dan seremoni. Ia juga dapat dirawat melalui hal-hal sederhana: berbagi kegembiraan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat kebersamaan.