Fasilitator Diminta Hindari Asumsi dalam Memahami Peserta Pembelajaran
Fasilitator dalam kegiatan pembelajaran penguatan moderasi beragama diminta tidak terjebak pada asumsi dalam memahami peserta. Fasilitator perlu melihat peserta berdasarkan latar belakang dan karakteristiknya agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
Hal tersebut disampaikan narasumber Ida Fitri Dianingrum, Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang, dalam kegiatan manajemen kelas pembelajaran penguatan moderasi beragama, di Aula Lantai 3 Balai Litbang Agama Semarang.
Menurut Ida, fasilitator tidak seharusnya menilai seseorang hanya berdasarkan penampilan atau cara berpakaian. Penampilan peserta tidak dapat dijadikan dasar untuk memberikan cap atau kesimpulan tertentu.
“Jangan memandang peserta dari cara berpakaian. Misalnya ada orang memakai jilbab besar, kemudian langsung dicap ekstrem. Jangan sampai kita terjebak pada asumsi seperti itu,” ujarnya, Selasa (29/9/2026).
Ida menjelaskan, pemahaman terhadap audiens perlu disesuaikan dengan latar belakang peserta. Peserta dari kalangan siswa SMA, mahasiswa, maupun masyarakat umum memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.
“Dalam memahami audiens, kita harus melihat sesuai dengan latar belakangnya. Misalnya SMA, mahasiswa, dan masyarakat. Dalam menyampaikan materi juga berbeda,” jelasnya.

Ia menekankan, fasilitator perlu memberikan ruang kepada peserta untuk menyampaikan pendapat, termasuk ketika terdapat perbedaan pandangan dengan fasilitator. Perbedaan tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran selama dikelola secara konstruktif.
“Jangan sampai fasilitator jatuh pada asumsi. Jangan mengajak peserta masuk dalam ruang asumsi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa fasilitator memiliki peran dalam menciptakan suasana pembelajaran. Karena itu, fasilitator perlu terus merawat kapasitas dan cara berkomunikasi, termasuk memperhatikan gaya bicara ketika berinteraksi dengan peserta.
“Fasilitator sebagai sarana, maka kita harus merawatnya, termasuk gaya bicara,” pungkasnya.
Kegiatan pembelajaran penguatan Moderasi Beragama tersebut terselenggara melalui kerja sama BLA Semarang dan BDK Semarang. Pembelajaran ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas fasilitator agar mampu menciptakan proses pembelajaran yang terbuka, adaptif, dan menghargai keberagaman peserta.