BLA Semarang dan Klenteng Tay Kak Sie Berkolaborasi Perkuat Moderasi Beragama
Moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, dialog lintas agama, dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Klenteng Tay Kak Sie di Kota Semarang menjadi salah satu ruang untuk mempelajari praktik tersebut, melalui nilai sejarah, budaya, dan interaksi sosial yang telah terpelihara selama ratusan tahun.
Nilai-nilai tersebut menjadi fokus dalam Kunjungan Penguatan Moderasi Beragama bagi mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) UIN Walisongo Semarang di Klenteng Tay Kak Sie, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Balai Litbang Agama (BLA) Semarang ini sekaligus dirangkaikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara BLA Semarang dan pengelola Klenteng Tay Kak Sie.
Kepala BLA Semarang, Moch. Muhaemin, menjelaskan bahwa nama Tay Kak Sie yang secara harfiah bermakna “Kuil Kesadaran Agung” mengandung nilai filosofis yang selaras dengan semangat moderasi beragama. Kesadaran tersebut tercermin dalam sikap saling menghormati, menjaga keseimbangan, dan merawat persaudaraan kemanusiaan di tengah keberagaman.
“Nilai kesadaran agung ini sangat sejalan dengan semangat moderasi beragama yang terus kita gaungkan, yaitu kesadaran untuk saling menghormati, menjaga keseimbangan, dan merawat persaudaraan kemanusiaan di tengah keberagaman bangsa,” ujar Muhaemin.
Menurutnya, penguatan moderasi beragama perlu dilakukan melalui pengalaman langsung di tengah masyarakat. Dialog yang inklusif dan interaksi lintas agama menjadi bagian penting dalam membangun persatuan sekaligus menjaga kebinekaan Indonesia.
“Dialog yang inklusif dan interaksi langsung di ruang-ruang perjumpaan seperti ini merupakan kunci utama dalam membangun persatuan dan merawat kebinekaan,” ungkapnya.

Muhaemin menambahkan, penandatanganan perjanjian kerja sama antara BLA Semarang dan Klenteng Tay Kak Sie diharapkan tidak berhenti sebagai kesepakatan formal, tetapi menjadi awal kolaborasi berkelanjutan. Kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui pertukaran wawasan, berbagi pengalaman mengenai praktik keberagamaan yang moderat, serta edukasi kebudayaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa PPL UIN Walisongo Semarang diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan pentingnya membangun komunikasi lintas agama.
“Dengan pengalaman ini, menjadi pembelajaran nyata bahwa moderasi beragama tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Muhaemin berharap, kolaborasi BLA Semarang dan Klenteng Tay Kak Sie dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat kerukunan antarumat beragama, serta berkontribusi dalam menciptakan kedamaian di Kota Semarang dan Indonesia secara luas.
“Melalui sinergi lintas lembaga dan komunitas keagamaan, semangat moderasi beragama akan semakin tumbuh sebagai landasan untuk merawat keberagaman, memperkuat persaudaraan, dan menjaga keutuhan bangsa,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengurus Klenteng Tay Kak Sie Semarang, Indiarto, menyambut baik kunjungan dan kerja sama tersebut. Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi kedua pihak untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.
“Semoga kegiatan ini berjalan lancar. Kami siap belajar bersama. Jika ada hal yang ingin diketahui lebih lanjut, teman-teman juga bisa bertanya,” ujar Indiarto.
Ia menjelaskan, Klenteng Tay Kak Sie tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan tersebut antara lain pembagian takjil kepada masyarakat pada bulan Ramadan dan pelayanan kesehatan.
“Kami berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, salah satunya dengan membagikan takjil kepada masyarakat pada bulan Ramadan dan memberikan pelayanan kesehatan,” ujarnya.