⚡ Live Metrics BLA IKUB Wilayah Kerja: 99.99 Baik | Riset Terpublikasi: 999 Terindeks | Katalog SLiMS: 12.5k Buku | Repositori Wanantara: 600 Judul Sangat Baik | Hasil Survei MB: 98.99 Baik |
Beranda / Berita / Berita

Toleransi Harus Diwujudkan melalui Aksi Nyata dan Bijak Bermedia Sosial ‎

Berita 🗓️ 12 Oktober 2026 • Balai Litbang Agama Semarang
Toleransi Harus Diwujudkan melalui Aksi Nyata dan Bijak Bermedia Sosial  ‎
Bhante Nyanasuryanadi dari Vihara Mahabodhi Buddhist Centre Semarang menjadi narasumber pada kegiatan penguatan moderasi beragama, Minggu (11/10/2026)

‎Toleransi antarumat beragama merupakan bagian dari realitas kehidupan masyarakat yang perlu dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang dalam membangun komunikasi, kerja sama, dan hubungan sosial yang harmonis.

‎‎Hal tersebut disampaikan Bhante Nyanasuryanadi dari Vihara Mahabodhi Buddhist Centre Semarang saat ditemui di sela-sela kegiatan penguatan moderasi beragama bagi mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) UIN Walisongo Semarang di Balai Litbang Agama Semarang, Minggu (11/10/2026).

‎‎Menurut Nyanasuryanadi, kehidupan masyarakat di sejumlah daerah menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak selalu menjadi persoalan dalam interaksi sosial. Ia mencontohkan kehidupan umat Buddha di Jepara yang dapat berjalan berdampingan dengan pemeluk agama lain secara wajar.

‎‎Bahkan, di Kudus, kegiatan kerja bakti membangun vihara dapat melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama. Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa toleransi tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan kebersamaan.

‎‎“Dalam komunikasi lintas agama, terkadang perbedaan tidak terlalu menjadi persoalan karena masyarakat sudah terbiasa berinteraksi dengan siapa saja,” ungkapnya.

‎‎

Meski demikian, Bhante Nyanasuryanadi menilai perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan tersendiri dalam merawat toleransi, terutama di kalangan generasi muda. Interaksi langsung antarmanusia yang semakin berkurang menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian.

‎‎“Interaksi langsung antarmanusia kini cenderung berkurang karena banyak komunikasi berlangsung melalui media digital. Padahal, perjumpaan secara langsung menjadi salah satu cara untuk mengenal orang lain, memahami perbedaan, dan membangun kepercayaan,” tuturnya.

‎‎Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat memicu kesalahpahaman dan memperkeruh hubungan antarumat beragama. Informasi yang diterima tanpa memahami konteksnya berpotensi memengaruhi cara seseorang memandang kelompok lain.

‎‎“Karena itu, kemampuan menggunakan media sosial secara kritis menjadi hal penting. Generasi muda perlu membiasakan diri memeriksa informasi, memahami konteks, dan tidak mudah terprovokasi oleh pernyataan yang berpotensi memecah belah,” sambungnya.

‎‎Nyanasuryanadi menambahkan, generasi muda memiliki potensi untuk bersikap selektif dalam menerima informasi. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui pendidikan, pendampingan, dan pembiasaan berpikir kritis.

‎‎“Potensi tersebut perlu diperkuat melalui pendidikan, pendampingan, dan pembiasaan berpikir kritis,” ujarnya.

‎‎Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat terus membangun kebiasaan berdialog, menghargai perbedaan, dan bekerja sama tanpa memandang latar belakang agama.

‎‎"Dengan demikian, toleransi tidak hanya menjadi sebuah pemahaman, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan masyarakat maupun di ruang digital," pungkasnya.

Bagikan Berita Ini

Ikuti Media Sosial Kami