Belajar Toleransi dari Gereja Blenduk, Mahasiswa PPL UIN Walisongo Kenali Keberagaman
Gereja Blenduk atau Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Semarang tidak hanya dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah dengan arsitektur megah di Kota Semarang, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan keberagaman masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Litbang Agama (BLA) Semarang, Moch. Muhaemin, dalam kegiatan kunjungan rumah ibadah bagi mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) UIN Walisongo Semarang, Kamis (15/10/2026).
“Keberadaan gereja ini di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai kedamaian, keterbukaan, toleransi, dan persaudaraan antarumat beragama,” ujarnya.
Muhaemin menyampaikan, penguatan moderasi beragama perlu dilakukan melalui pengalaman langsung dan perjumpaan yang inklusif. Menurutnya, interaksi lintas agama menjadi ruang pembelajaran yang penting untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, memahami perbedaan, serta memperkuat kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan kerja sama kemanusiaan akan terpatri lebih kuat ketika kita berinteraksi langsung dan saling belajar satu sama lain melalui ruang-ruang perjumpaan seperti ini,” katanya.
Ia menambahkan, kunjungan rumah ibadah memberikan kesempatan kepada mahasiswa PPL untuk mengenal lebih dekat kehidupan keagamaan di luar komunitasnya.
"Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sejarah dan fungsi rumah ibadah, tetapi juga belajar memahami pentingnya menghargai perbedaan serta membangun komunikasi yang terbuka di tengah masyarakat yang beragam,"
Muhaemin mengingatkan bahwa para peserta dapat mengambil pelajaran berharga dari kunjungan tersebut, terutama mengenai keterbukaan, kasih, dan kearifan dalam menjaga kerukunan antargolongan.
“Pengalaman ini bisa dijadikan bekal bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian kepada masyarakat,” sambungnya.
Selain kunjungan rumah ibadah, kegiatan tersebut juga ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara BLA Semarang dan Gereja Blenduk.
"Penandatanganan ini menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan strategis untuk mendukung penguatan moderasi beragama melalui kegiatan pembelajaran, pertukaran wawasan, dan pengenalan nilai-nilai kerukunan," ungkapnya.
Muhaemin berharap, kerja sama tersebut dapat membuka ruang kolaborasi berkelanjutan antara lembaga keagamaan dan pengelola rumah ibadah dalam memperkuat pemahaman tentang keberagaman dan kerukunan antarumat beragama.
“Kerja sama dengan Gereja Blenduk diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran untuk berbagi wawasan dan pengalaman dalam membangun kehidupan beragama yang inklusif, sekaligus memperkaya pengetahuan masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai sejarah dan nilai-nilai kerukunan,” pungkasnya.