Moderasi Beragama Dimulai dari Keluarga, Ibu Berperan Tanamkan Sikap Toleran
Moderasi beragama dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan membiasakan perilaku santun dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan fasilitator moderasi beragama Balai Litbang (BLA) Agama Semarang, Mazaya Fikrotil Aimmah, saat memberikan materi penguatan moderasi beragama kepada jamaah Majelis Taklim Al Istiqomah, Kota Semarang, Minggu (18/10/2026).
Mazaya mengawali materinya dengan mengajak jamaah merefleksikan pengalaman menghadapi perbedaan pendapat, baik dengan tetangga, saudara, maupun anggota keluarga sendiri.
“Perbedaan terkadang muncul dalam berbagai persoalan, mulai dari pilihan hidup, pola asuh anak, tradisi keluarga, hingga cara menyikapi suatu masalah,” tuturnya.
Menurut Mazaya, perbedaan pandangan tidak seharusnya selalu berujung pada pertengkaran. Setiap orang dapat memiliki pendapat yang berbeda tanpa mengesampingkan sikap saling menghormati.
“Kita bisa berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati. Kita bisa tidak setuju dengan seseorang, tetapi tetap menjaga ucapan dan perilaku kita kepadanya,” katanya.
Ia menjelaskan, moderasi beragama merupakan cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam menjalankan ajaran agama secara adil dan berimbang. Sikap moderat bukan berarti mengurangi ketaatan dalam beragama, melainkan menghindari perilaku berlebihan yang dapat mengarah pada sikap ekstrem.
“Sikap moderat bukan berarti mengurangi ketaatan dalam beragama ataupun sebaliknya ceroboh dalam beragama, melainkan menghindari perilaku berlebihan yang dapat mengarah pada sikap ekstrem,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mazaya menekankan pentingnya peran ibu dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada anak-anak.
"Keluarga menjadi ruang pertama bagi anak untuk belajar menghormati orang lain, berbicara dengan santun, serta menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan," katanya.
Pendidikan nilai-nilai agama, lanjutnya, tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat. Anak-anak juga belajar dari perilaku yang mereka saksikan setiap hari, termasuk cara orang tua memperlakukan tetangga, menyikapi perbedaan, dan mengambil keputusan ketika menghadapi persoalan.
“Ketika anak melihat ibunya berbicara dengan santun, menghormati tetangga, tidak mudah menghakimi orang lain, dan menyelesaikan masalah dengan baik, sesungguhnya anak sedang belajar tentang sikap beragama yang membawa kebaikan,” pesannya.
Mazaya menegaskan, hidup rukun tidak mengharuskan setiap orang memiliki pandangan yang sama.
"Setiap individu tetap dapat menjalankan keyakinan agamanya dengan teguh sekaligus menghormati hak orang lain dan menjaga perdamaian," ungkapnya.
Selain di lingkungan keluarga, Mazaya mengingatkan jamaah agar menerapkan nilai-nilai moderasi beragama dalam menggunakan media sosial. Ia mengimbau jamaah untuk tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang diterima, melainkan memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
“Penyebaran informasi yang belum terverifikasi dapat memicu kemarahan, kesalahpahaman, bahkan perselisihan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan ini hasil kolaborasi BLA Semarang dengan Kantor Kementerian Agama Kota Semarang.